Profil YLPS Humana
Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) Humana secara formal berdiri pada tanggal 13 Juni 1990. Akta Notarisnya dibuat pada Kantor Notaris Felix Handoyo, SH dan secara resmi telah terdaftar di Pengadilan Negeri Yogyakarta dengan nomor 76/90/VI/Y.
Pada awalnya pendirian lembaga ini dimaksudkan untuk mewadahi aktifitas komunitas GIRLI, yakni komunitas anak jalanan di Yogyakarta yang sudah ada sejak tahun 1982. Humana dan Girli berproses bersama dalam rangka memikirkan kebutuhan anak-anak jalanan sambil berusaha mengkampanyekan hak-hak anak pada umumnya.
Krisis ekonomi yang melanda negeri ini pada tahun 1998 membawa perubahan besar dalam fenomena kemiskinan di Indonesia. Didasari pada pantauan Humana, di sejumlah kampung di Yogyakarta mulai menunjukkan gejala peningkatan jumlah anak jalanan. Berbeda dengan masa sebelum krisis di mana Anak Jalanan umumnya berasal dari luar kota dan hidup tanpa keluarga, maka pasca krisis, anak jalanan di Yogyakarta didominasi oleh anak-anak yang masih memiliki kontak dengan keluarga yang berasal dari sekitar ruang publik tempat mereka mencari nafkah.
Seiring dengan itu jumlah LSM yang bergerak di bidang anak jalanan juga mulai meningkat secara tajam. Di Yogyakarta pada saat itu diperkirakan ada 10 LSM yang tiba-tiba muncul dan bersaing untuk menjalankan program mereka. Sasaran penerima manfaat dari program LSM tersebut adalah anak-anak jalanan tanpa keluarga. Sangat sedikit LSM yang bekerja untuk menangani anak jalanan yang masih memiliki kontak dengan keluarga dan berasal dari dalam kota itu sendiri, padahal anak jalanan dalam katagori ini adalah yang paling banyak.
Menginjak tahun 2002, Humana mulai fokus pada penanganan anak jalanan yang berasal dari kampung di wilayah Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Pada gilirannya Humana juga melakukan aktifitas yang bersifat pencegahan (preventif) untuk anak-anak di perkampungan agar tidak turun ke jalanan. Fokus utama kegiatan Humana adalah upaya memaksimalkan akses layanan publik bagi pemenuhan hak anak.
Saat ini Humana sudah melakukan pendampingan terhadap lima kampung di Yogyakarta. Dalam aktivitas ini, Humana memilih akses dalam pendidikan dan kesehatan sebagai pintu masuk karena dua hal ini merupakan kebutuhan utama para anak-anak marjinal.

